Who I Am?

Siapa aku adalah pertanyaan sederhana yang sulit disederhanakan jawabannya. Setiap manusia itu unik dengan kerumitannya masing-masing.

Siapakah kamu? Kamu tidak akan berguna untuk siapapun dan apapun jika kamu tidak mengenal diri sendiri, kamu tidak akan bermanfaat untuk siapapun jika tidak bermanfaat untuk diri sendiri, bahkan kamu tidak akan mencintai apapun jika tidak mencintai diri sendiri. 

Pencarian jadi diri bagi sebagian orang dijalani dengan rentang waktu bermacam-macam, ada yang cepat apa pula yang lama, melalui  sekian banyak fase kehidupan. Jatuh bangun sekian kali, terpuruk bangkit kembali, hilang menemukan kembali, sempat tergelincir di jalan yang salah dan kembali mencari jalan yang benar. 

Siapa aku dan dari mana aku? Kemana aku akan pergi, apa tujuan dan kedatanganku ke dunia ini, bagaimanakah aku hidup, bagaimana aku berharap serta apa yang membuatku bahagia? Merupakan serangkaian pertanyaan yang sederhana tapi rumit untuk dijawab. Mungkin jawabannya sudah hapal di kepala kita masing-masing, tetapi terkadang saat menilai kembali kedalam diri, berdialog dengan diri sendiri pikiran itu saling menyerang beradu pendapat, pertanyaan dalam pertanyaan, yakin ragu kembali, seperti sebuah labirin.

Akal selalu memegang semua proses yang terjadi didalam tubuh seseorang secara utuh. Akal memiliki potensi yang istimewa membuat kita terjebak satu titik tapi akan menemukan jalan di titik yang lain dengan syarat tidak berhenti melangkah, berpikir, menganalisa, memvalidasi, bermimpi dan lain sebagainya merupakan proses akal untuk mendapatkan ketenangan jiwa yang sering dinamakan bahagia (mungkin seperti itu hanya pendapat pribadi)

Mengenal diri sendiri tidak hanya sebuah proses pencarian jadi diri tetapi satu paket dengan mengenal apa yang kita yakini, mendekatkan kita pada apa yang kita imani, filsafat bilang proses mendekatkan diri pada Tuhan.

Benarkah jiwa dikendalikan oleh akal atau hati? Aku lebih suka menyebutnya sebagai naluri (fitrah) yang terus menelusuri labirin,  mencari petunjuk untuk menemukan cahaya Ilahi. 

Menentukan sebuah jalan yang akan dilalui tidaklah mudah, apalagi di saat mendung, hujan dan panas ada rasa takut menemukan jalan buntu kembali setelah menentukan tujuan. Kita perlu panduan, kita perlu panutan agar tidak tersesat kembali kejalan yang sama, agar ada pengingat saat melakukan kesalahan, minimal ada penanda jika kita pernah melalui jalan yang sama.

Konsep ketuhanan adalah cara seseorang bertahan terhadap serbuan cobaan kehidupan, serangan dari serangkaian pertanyaan oleh otak yang tak berkesudahan yang terkadang tidak ada jawabannya. Seperti  sebuah kata Alif Lam Mim  yang memiliki arti hanya Allah SWT yang tahu artinya

Lalu siapakah diriku? Siapakah Dirimu? Mari kira mengamati diri masing-masing. Jika kalian sudah menemukannya bersyukurlah karena sudah selangkah lebih maju, jika belum teruslah mengenal dan mengamati jangan berhenti melangkah menemukan jalan kita sendiri sendiri.

Exit mobile version