Event

Mari Rawat Bumi Seperti Merawat Tubuh Sendiri

Bumi adalah rumah kita satu satunya

Bumi (lingkungan hidup) adalah ruang yang ditempati oleh makhluk yang bernyawa bersama dengan benda hidup dan tidak hidup untuk bertahan hidup. Kita menyadari dan memahami sampai saat ini hanya Bumi yang layak huni. Tempat teraman dan ternyaman sampai detik ini. Walaupun ada beberapa penelitian yang menyatakan kalau ada beberapa planet yang mirip dengan Bumi. Tapi apakah kita sudah siap dan mampu bertahan selain di Bumi?

Bumi memberi kemudahan kita untuk bertahan hidup, bernafas tanpa alat perantara dan tanpa membeli tabung oksigen, serta melimpahnya sumber pangan mulai dari daratan sampai dengan lautan. Tubuh manusia memerlukan asupan oksigen dan makanan untuk tetap hidup. Tubuh adalah rumah bagi organ dan panca indra, namun Bumi adalah rumah bagi kehidupan.

Daratan dan lautan mempunyai benda hidup berupa biodiversitas yang melimpah. Biodiversitas adalah keragaman kehidupan di Bumi, yang merupakan rantai kehidupan yang saling terkait satu sama lain, mulai dari tingkatan gen sampai dengan ekosistem mencakup proses evolusi, ekologi dan budaya yang menopang kehidupan.

Biodiversitas berperan sangat penting bagi keberlangsungan hidup di Bumi. Selain menjaga stabilitas iklim, siklus air, siklus nutrisi, meyediakan bahan baku obat, biodiversitas juga berperan dalam meyerap karbon dioksida dan polusi udara.

Namun sangat disayangkan semua yang dikonsumsi oleh manusia berakhir dengan rusaknya stabilitas yang telah berjalan, sampai akhirnya Bumi pun lelah. Dan menagih upah kepada manusia berupa bencana.

Kekayaan Bumi di Indonesia yang Perlu Dijaga

Menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia merupakan daratan dengan kekayaan kekayaan biodiversitas terrestrial tertinggi kedua di dunia. Jika di gabungkan dengan keanekaragaman hayati di laut, maka Indonesia menjadi biodiversitas pertama di dunia.

Rosichon Ubaidillah, Peneliti Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, memaparkan bahwa status dan tren keanekaragaman hayati Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat agro biodiversitas dunia dengan 10% spesies dari total spesies tumbuhan dunia.

Peringkat spesies milik Indonesia di dunia

Mari Rawat Bumi Seperti Merawat Tubuh Sendiri 2
Sumber : remake infografis from indonesiabaik.id

Biodiversitas yang tinggi di suatu wilayah dinilai punya banyak manfaat bagi lingkungan dan kehidupan. Manfaat-manfaat ini antara lain adalah lingkungan, sosial, ekonomi hingga sebagai sumber daya alam.

Kondisi lingkungan hidup di Tengah Perubahan Iklim

“Pada tanggal 9 Agustus 2021 Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan hasil penelitian yang di lakukan oleh IPCC bahwa kondisi lingkungan akibat perubahan iklim berada pada “zona merah bagi umat manusia”. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) atau dalam terjemahan Indonesia di kenal dengan Panel Antarpemerintan tentang Perubahan Iklim, merupakan suatu organisasi  ilmiah yang terdiri dari para ilmuan dari seluruh dunia untuk memajukan pengetahuan tentang perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Peringatan dari IPCC bukan hanya ditujukan untuk beberapa negara saja, melainkan untuk seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam 20 tahun kedepan resiko dari pemanasan global yang menjadi penyebab bencana cuaca ekstrim di seluruh dunia tidak lagi dapat di kendalikan. Hal ini terjadi jika kita tidak dapat membatasi diri dalam melakukan kegitan rutinitas harian yang masih menghasilkan emisi karbon dioksida secara berlebih.

Bagaimana Dengan Kondisi di Indonesia Saat Ini?

Indonesia sebagai negara yang sedang bertumbuh, menjalankan beberapa kebijakan stategis yang bertujuan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi supaya kesejahteraan rakyat meningkat. Tetapi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang di jalankan tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan per kapita saja. Sebaiknya juga memperhatikan dampak kualitas lingkungan hidup bagi masyarakat untuk tetap hidup nyaman dan sehat.

Standar kehidupan yang baik dari setiap negara hanya dapat dicapai apabila pertumbuhan produksi barang dan jasa yang meningkat. Pertumbuhan produksi barang dan jasa akan meningkatkan pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan permasalahan emisi CO2 di Indonesia. Di sisi lain, aktivitas industri, pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan sawit, dan pembakaran lahan gambut guna mendorong pertumbuhan ekonomi juga berkontribusi bagi kerusakan lingkungan.

Berikut ini adalah data perkembangan produk domestik bruto yang di ikuti dengan kenaikan jumlah industri dan jumlah pemakaian kedaraan bermotor. Serta jumlah karbondioksida yang di hasilkan selama 9 tahun terakhir.

Keterangansatuan 20102019%
Produk Domestik Brutorupiah  68,64133,10015,832,535,400231%
Jumlah Kendaraan Bermotor
unit79,907,127133,811,462167%
Jumlah industriunit2,756,0304,411,516160%
Jumlah emisi karbondioksidakiloton415,520619,840149%
Sumber: Ivenda, Septania. Pertumbukan Ekonomi dan Gas Karbon Di Indonesia

Peningkatan gas emisi karbon diatas akan mengingkatkan emisi gas rumah kaca ( GRK), pada tahun 2010 GRK di Indonesia sudah meningkat sebesar 35% dibandingkan tahun 1990. Jadi kalau sekarang Bogor sudah tidak sedingin dulu, ternyata inilah jawabannya.

Dari riset yang telah dilakukan oleh WALHI didapatkan data bahwa lahan seluas 159 juta hektar sudah terkapling dalam ijin investasi industri ekstraktif. Luas wilayah daratan yang secara legal sudah dikuasai oleh korporasi yakni sebesar 82.91%, sedangkan untuk wilayah laut sebesar 29.75%.

Data IPBES 2018 juga menyebutkan bahwa setiap tahunnya Indonesia kehilangan hutan seluas 680 ribu hektar, yang mana merupakan terbesar di region asia tenggara. Sedangkan data kerusakan sungai yang dihimpun oleh KLHK tercatat bahwa, dari 105 sungai yang ada, 101 sungai diantaranya dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.

Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bukan hanya dikarenakan penggundulan hutan. Berbagai kegiatan pertambangan, baik yang berskala raksasa maupun mini ikut andil memperparah kerusakan lingkungan Indonesia. Purwanto (2007: 7) dengan mengutip New York Times 2005 mencontohkan, sejak 1967 Freeport di Papua telah menghasilkan limbah seberat 6 miliar ton.

Penjualan pasir laut ke Singapura merupakan persoalan bagi Indonesia karena patut diduga terjadi kerusakan lingkungan. Hingga 2004 saja negeri itu membutuh 800 juta km kubik pasir guna reklamasi pantai beberapa pulaunya. Terdapat 140 perusahaan terlibat dalam penambangan pasir itu dan konon hanya dua yang memiliki Amdal (Satria, 2009, h. 48).

Tragedi lingkungan juga terjadi di P. Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Masyarakat tradisional itu tergusur modernisasi. Karena agama mereka berbeda, dijadikan alasan untuk mendorong mereka ke pedalaman dan dipaksa untuk memiliki identitas agama sesuai yang diakui pemerintah. Bersamaan dengan itu, hutan mereka juga digunduli. Pemegang HPH diberi kesempatan menghancurkan hutan Siberut selama 20 tahun. (Reimar Schefol dalam Dove, 1985. h. 217-281)

Ulrich Beck (1998) menjelaskan, semua orang masa kini, termasuk masyarakat, berisiko dalam persoalan lingkungan. Ini terbukti dengan seringnya terjadinya musibah, baik yang murni peristiwa alam atau peristiwa yang melibatkan manusia. Pernyataan Beck tersebut sudah sering terjadi di Indonesia dan banyak korban. Persoalan lingkungan di negeri ini merupakan musibah yang terjadi secara berulang.

Dampak utama emisi karbon pada perubahan iklim terhadap lingkungan.

Dari peringatan zona merah yang digaungkan oleh PPB dan beberapa catatan penelitian kondisi lingkungan di Indonesia, kita dapat simpulkan dampak utama emisi karbon pada perubahan iklim terhadap lingkungan adalah sebagai berikut:

Setiap ekosistem di darat dan di laut mempunyai peran masing masing yang sama pentingnya agar kehidupan di bumi ini tetap tumbuh. Tanpa laut dan hutan yang sehat mustahil kita mewujudkan Bumi tetap sehat.

Everything on our planet is connected

Kebiasan sehari-hari berkaitan erat dengan kesehatan tubuh kita di masa akan datang dan juga bagi bumi. Rutinitas yang kita lakukan berdampak langsung bagi Bumi, mulai dari kita bangun tidur sampai dengan tertidur kembali. Makanan yang kita makan, pakaian dan kendaraan yang kita gunakan. Serta hiburan yang kita piih agar tetap waras di Bumi akan menghasilkan emisi gas karbon dan sampah bagi Bumi.

Keputusan yang kita ambil untuk memenuhi aktivitas tersebut akan berdampak bagi Bumi ini. Maka dari itu dalam menjalankan rutinitas keseharian kita dapat melakukan hal-hal sederhana untuk meringankan penderitaan bumi sebagai berikut:

  1. Membuat daftar belanja harian dan bulanan, untuk meminimalisir sampah plastik.
  2. Membawa alat makan sendiri mulai dari kotak makan, tumbler, sendok , garpu dan sedotan sendiri.
  3. Menggunakan alat alat keseharian semaksimal mungkin sampai benar benar tidak bisa digunakan.
  4. Menggunakan air secukupya
  5. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor,
  6. Perbanyak olah raga dan berjalan kaki.
  7. Memilih skin care dan body care yang ramah lingkungan
  8. Bijaklah saat berwisata di alam, agar tidak semakin memperburuk kerusakan alam.
  9. Sering sering menonton film dokumenter yang menjelaskan kondisi bumi saat ini.

Menjaga bumi adalah tanggung jawab kita bersama, hal-hal kecil yang kita lakukan walau tidak signifikan namun bisa berdampak baik bagi diri sendiri. Semua hal besar di mulai dari perubahan kecil. Semoga hal hal sederhana di atas perlahan menjadi pemulihan untuk Bumi tetap lestari. Mari Bersama Bergerak Berdaya Untukmu Bumiku. Bergerak bersama untuk melesatarikan kekayaan Bumi ini untuk generasi selanjutnya.

Jangan serakah ya! Menikmati sendiri keberkahan alam ini. Bukankah Bumi selalu mengajarkan kita untuk berbagi?

Bumi mengajarkan dengan berbagi kita semakin kaya, kita memberikan Bumi 1 bibit tanaman, Bumi akan mengembalikannya dengan pohon yang buahnya dapat di petik beberapa tahun kedepan. Maka bersikaplah membumi karena suatu saat nanti kamupun akan di kebumikan.

“Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!”

Sumber

  • https://indonesiabaik.id/infografis/indonesia-punya-biodiversitas-terbesar-di-dunia
  • https://www.walhi.or.id/kondisi-lingkungan-hidup-di-indonesia-di-tengah-isu-pemanasan-global
  • Beck, Ulrich.1998. World Risk Society. Cambridge: Polity Press.
  • Ivenda, Septania. 2023. Pertumbukan Ekonomi dan Gas Karbon Di Indonesia. Jurnal Ilmu Ekonomi Vol.7 No.1 Malang: Indonesia.
  • Purwanto, Edi. 2007. Nasionalisme Lingkungan: Pesan Konservasi dari Lambusango. Buton:
    PKHL dan Operation Wallacea Trust
  • Satria, Arif. 2009. Ekologi Politik Nelayan. Yogyakarta: LkiS
  • Dove, Michael R. 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia Dalam Modernisasi.
    Jakarta: Obor Indonesia

Show More

Reno

Traveler, Backpacker, Animation Lover, Animal's Lovers, Pluviophile, Nyctophilia,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.

Back to top button
error: Content is protected !!